بسم الله الرحمن الرحيم
Makalah Ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata
Kuliyah Qowa’idul Fiqhiyah
O
L
E
H
ENA KUSUMAWATI MARDHIA NINGSIH EL-LAMPUNGIE
AL-MA’HAD AL-‘ALY HIDAYATURRAHMAN LID DIROSAH
ISLAMIYAH
PILANG-MASARAN-SRAGEN-JAWATENGAH
QOI’DAH KE-EMPAT
Al-MASYAQQAH
TAJLIBU AL-TAISIR
(KESULITAN MENYEBABKAN ADANYA KEMUDAHAN)
BAB 1
I.
PENDAHULUAN
Allah SWT sebagai musyarri’ memiliki
kekuasaan yang tiada tara, dengan kekuasaan-Nya itu Dia mampu menundukkan
ketaatan manusia untuk mengabdi pada-Nya. Agar dalam realisasi penghambaan itu
tidak terjadi kekeliruan maka Dia membuat aturan-aturan khusus yang disebut
sebagai syariah demi kemaslahatan manusia sendiri. Tentunya syariah itu
disesuaikan dengan tingkat kemampuan dan potensi yang dimiliki seorang hamba,
karena pada dasarnya syari’at itu bukan
untuk kepentingan Tuhan melainkan untuk kepentingan manusia sendiri.
Dalam hal ini, Allah SWT memberikan 3 alternatif bagi
perbuatan manusia, yakni positif (wajib), cenderung kepositif (sunnah),
cenderung kenegatif (makruh) dan negatif (haram). Untuk realisasi kelima
alternatif itu selanjutnya Allah SWT memberikan hukum keharusan yang disebut
dengan Azimah yakni keharusan untuk melakukan yang positif dan keharusan untuk
meninggalkan yang negatif.
Namun tidak
semua keharusan itu dapat dilakukan manusia, mengingat potensi atau kemampuan yang
dimiliki manusia berbeda-beda. Dalam kondisi semacam ini, Allah SWT memberikan
hukum rukhsah yakni keringanan-keringanan tertentu dalam kondisi tertentu pula.
Sehingga dapat dikatakan bahwa keharusan untuk melakukan azimah seimbang dengan
dengan kebolehan melakukan rukhsah.
Allah SWT berfirman:
ﻻﯾﻜﻠﻑ ﺍﷲ ﻧﻔﺴﺎ ﺍﻻ ﻮ ﺴﻌﻬﺍ (ﺍﺑﻘﺮﺓ:٢٧٦
“Allah tidak membebani seseorang kecuali dalam
batas kesanggupan” (QS. Al Baqarah: 286)
Bagi
Asy-Syahibi, kesulitan itu dihilangkan bagi orang mukallaf karena dua sebab. Pertama,
karena khawatir akan terputuskan ibadah, benci terhadap ibadah, serta benci
terhadap taklif, dan khawatir akan adanya kerusakan bagi orang mukallaf, baik
jasad, akal, harta maupun kedudukannya, karena pada hakikatnya taklif itu untuk
kemaslahatan manusia. Kedua, karena takut terkurangi kegiatan-kegitan sosial
yang berhubungan dengan sesama manusia, baik terhadap anak maupun keluarga dan
masyarakat sekitar, karena hubungan dengan hak-hak orang lain itu juga termasuk
ibadah pula.
Menurut Dr.
Wahab Az-Zuhaili, tujuan pokok terciptanya kaidah diatas adalah untuk
membuktikan adanya prinsip tasamuh dan keadilan dalam Islam agar Islam itu
terkesan tidak menyulitkan. Karena itu setiap kesulitan akan mendatangkan
kemudahan, dan kewajiban melakukan tasamuh jika dalam kondisi menyulitkan.
(Wahbah as Zuhaili, 1982:195-196)
II.
DEFINISI
MASYAQQAH TAJLIBU AL-TAISIR
Dari segi
bahasa masyaqqah bermaksud sesuatu yang meletihkan. Atau Al-Masyaqqah
menurut ahli
bahasa (etimologis) adalah al-ta’ab yaitu kelelahan, kepayahan,
kesulitan, dan kesukaran, seperti terdapat dalam QS. An-Nahl ayat 7:
ﻮﺘﺤﻤﻞ ﺃﺛﻘﺎ ﻠﮕﻢ ﺇﻟﻰ ﺒﻠﺪ ﻟﻢ ﺘﮕﻮﻨﻮﺍ ﺑﺍﻠﻐﯿﻪ ﺇﻻ ﺒﺸﻖ ﺍﻷﻨﻔﺲ
“Dan ia memikul beban-bebanmu
kesuatu negeri yang tidak sampai ketempat tersebut kecuali dengan kelelahan
diri (kesukaran)”
Sedang Al Taysir secara etimologis berarti
kemudahan, seperti didalam hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Bukhari
disebutkan oleh :
ﺍﻟﺪﻴﻦ ﻴﺴﺮ ﺍﺤﺐ ﺍﻟﺪﻴﻦ ﺍﻠﻰ ﺍﷲ ﺍﻟﺤﻧﻔﻴﺔ ﺍﻠﺴﻤﺤﺔ ﴿ﺮﻮﺍﻩﺍﻟﺑﺧﺮﻰ﴾
“Agama itu memudahkan, agama yang
disenangi Allah adalah agama yang benar dan mudah” (HR.
Bukhari dari Abu Hurairah)
Jadi makna
kaidah tersebut secara istilah adalah kesulitan menyebabkan adanya kemudahan.
Maksudnya adalah bahwa hukum-hukum yang dalam penerapannya menimbulkan
kesulitan dan kesukaran bagi mukkallaf (subjek hukum), sehingga syariah
meringankannya sehingga mukkallaf mampu melaksanakannya tanpa kesulitan dan
kesukaran.
III.
DALIL-DALIL YANG BERKAITAN DENGAN QAI’DAH MASYAQQAH TAJLIBU AL-TAISIR
Berikut
merupakan dalil-dalil atau nas-nas syar’i yang berkaitan dengan Qai’dah
ini antaranya ialah :
1)
Al-Quran
Berdasarkan
kepada firman Allah s.w.t :
يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا
يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ
“Allah
menghendaki kamu beroleh kemudahan, dan ia tidak menghendaki kamu menanggung
kesukaran”.
Firman Allah s.w.t lagi :
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا
“Kami tidak memberatkan seseorang
dengan kewajipan melainkan sekadar kesanggupannya”.
Firman Allah:
رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا
إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا
”Ya Allah Rabb kami janganlah
engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana engkau bebenkan kepada
orang-orang sebelum kami.”
يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُخَفِّفَ عَنْكُمْ
“Dan Allah hendak menerima
taubatmu.”
مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ
مِنْ حَرَجٍ
“Allah tidak ingin menyulitkaa kamu, tetapi
Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, agar kamu
bersyukur.”
وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالْأَغْلَالَ
الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ
“Dan membebaskan beban-beban
dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka.”
Kesimpulan
berdasarkan kepada firman Allah s.w.t di atas ialah Allah s.w.t
tidak menginginkan kesukaran kepada umat ini, sebaliknya mereka disuruh
melaksanakan sesuatu tanggungjawab sekadar termampu atau mengikut kemampuan
seseorang itu untuk melaksanakan sesuatu perkara.
2)
Sunnah al-Nabawiyyah
Berdasarkan kepada hadis
Rasulullah s.a.w :
سئل النبي صلى الله عليه وسلم عن أحب الأديان إلى الله،
فقال : ((الحنيفة السمحة)
“Ditanya Nabi s.a.w, tentang agama
(cara hidup) manakah yang paling dikasihi (disukai) oleh Allah, maka
berkata Nabi s.a.w : Agama Nabi Ibrahim a.s (Islam) yang bertolak ansur”. (HR. Ahmad, Thabrani).
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (( يسروا ولا
تعسروا))
“Nabi s.a.w bersabda, permudahkanlah dan
jangan menyusahkan”.
Hadis di atas menjelaskan bahawa syariat Islam adalah mudah
dan ringan, ia juga adalah sebahagian daripada tujuan syari’at.
IV.
TINGKATAN KESULITAN DALAM IBADAH
Para ulama membagi masyaqqah ini menjadi tiga
bagian :
- al-Masyaqqah al-‘Azhimmah (
kesulitan yang sangat berat), seperti kekhawatiran yang akan hilangnya
jiwa dan/atau rusaknya anggota badan. Hilangnya jiwa dan /atau anggota
badan mengakibatkan kita tidak bisa melaksanakan ibadah dengan sempurna.
Masyaqqah semacam ini membawa keringanan.
- al-Masyaqqah al-mutawasithah
(kesulitan yang pertengahan, tidak sangat berat juga sangat tidak ringan).
Masyaqqah semacam ini harus dipertimbangkan, apabila lebih dekat kepada masyaqqah
yang sangat berat, maka ada kemudahan disitu. Apabila lebih dekat
kepada masyaqqah yang ringan, maka tidak ada kemudahan disitu.
Inilah yang penulis maksud bahwa mayaqqah itu bersifat individual.
- al-Masyaqqah al-Khafifah (
kesulitan yang ringan), seperti terasa lapar waktu puasa, terasa capek
waktu tawaf dan sai, terasa pening waktu rukuk dan sujud, dan lain
sebagainya. Masyaqqah semacam ini dapat ditanggulangi dengan mudah
yaitu dengan cara sabar dalam melaksanakan ibadah. Alasannya, kemaslahatan
dunia dan akhirat yang tercermin dalam ibadah tadi lebih utama daripada masyaqqah
yang ringan ini.
V.
RUKHSHOH (KERINGANAN)
Rukhshoh dalam bahasa adalah kemudahan, lunak, mudah serta meluas.
Sedangkan menurut istilah adalah Hukum Syar’i yang ditetapkan untuk
mempermudah dengan adanya udzur walaupun ada dalil yang mengharamkan karena
untuk mempermudahkan dan memperluas. Hukum yang terjadi untuk menyesuaikan
kemampuan beban yang menimpanya bagi dirinya, hartanya, atau dhorurah yang
lain, disebabkan karena sakit, faqir, atau sebab-sebab yang muncul. Oleh Karena
itu syari’at sebagai rahmat dengan meringankan beban, hukum ini sebagai
pengganti bagi orang yang tidak mampu untuk melakukannya.
Yang menjadi pokok itu adalah bagi orang yang sakit, safar mendapatkann
rukhshoh dalam melaksanakan kewajiban agama, seperti sholat, puasa ada sebab
yang bisa merubah kewajiban dengan adanya keringanan, Gugurnya kewajiban sholat
jum’at bagi orang yang sakit, musafir, dan disyari’atkan mengqoshor shalat bagi
musafir, dan diperbolehkan sholat dengan duduk, atau meluruskan kakinya bagi
siapa yang tidak mampu sholat dengan berdiri atau duduk, dan diperbolehkan berbuka
puasa bagi musafir dan orang yang sakit dan
mengganti puasa setelah sudah
mampu melaksanakannya dan sembuh.
Contoh Bai’u salam (ada rukun yang hilang dadalamnya), Jualbeli yang salah
satu rukunnya hilang maka jual beli tersebut adalah bathil, akan tetapi jika
untuk kebutuhan manusia maka
deperbolehkan untuk mempermudahkan.
VI.
KAPAN MASYAQQOH ITU TERJADI MUDAH
Masyaqoh terjadi ketika masyaqoh itu melebihi kemampuan manusia. Masyaqqoh
yang keluar dari kebiasaan manusia maka wajib baginya untuk mengambil rukhshoh,
Karen auntuk menjaga diri.
VII.
FAKTOR-FAKTOR YANG DIMUDAHKAN DAN SEBAB-SEBAB DIRINGANKAN
Asli syari’at telah ditetapkan kemudahannya dan mencegah keluar dari
syari’at, oleh karena itu ada rukhsokh sebagai penghalang yang menimpa manusia
secara samawy atau tidak samawy. Samawiyah adalah ketentuan dari Allah yang
tidak bisa dirubah, seperti anak kecil, orang gila, orang dungu, lupa, orang
yang tidur, orang yangpingsan, hambasahaya, orang yang sakit, kematian, haidh
dan nifas. Anak kecil belum mendapat beban sampai sia baligh, orang yang gila
sampai dia berakal, orang yang dungu lebih rendah derajatnya daripada orang
gila yang diqiyaskan seperti anak kecil. Orang yang lupa telah dimaafkan dalam
melaksanakan hak-hak Allah, yaitu udzur tanpa da deban dos. Orang yang tidur
sampai ia terbangun, orang yang pingsan sampai ia tersdarakan. Sedangkan budak
yang lemah tidak diwajibkan untuk sholat jum’at serta haji. Orang yang sakit
tetap disyari’atkan beribadah sesuai kemampuannya. Haidh dan nifas dengan
ketentuan masing-masing. Kematian menggugurkan kewajiban seorang hamba untuk
beribadah, bagi ahli mayit seyogyanya untuk mengurusi jenazahnya dalam proses
pemakaman, membayarkan hutangnya jika ada serta melaksanakan wasiatnya.
Sedangkan ketentuan yang bisa dirubah adalah kebodohan dengan adanya
Syari’at.
Terdapat tujuh sebab keringanan yang diberikan oleh syari’at dalam ibadat,
yaitu :
Ø Musafir : syarak memberikan
keringanan seperti qasar dan jamak solat serta berbuka puasa.
Ø Sakit : Misalnya
boleh tayamum ketika sulit memakai air, shalat fardu sambil duduk, berbuka
puasa bulan Ramadhan dengan kewajiban qadha setelah sehat, ditundanya
pelaksanaan had sampai terpidana sembuh, wanita yang sedang menstruasi.
Ø Paksaan : syari’at mengharuskan
seseorang yang dipaksa untuk melafazkan perkataan kufur. Atau Misalnya boleh tayamum ketika sulit memakai
air, shalat fardu sambil duduk, berbuka puasa bulan Ramadhan dengan kewajiban
qadha setelah sehat, ditundanya pelaksanaan had sampai terpidana sembuh, wanita
yang sedang menstruasi.
Ø Lupa : seseorang yang makan dalam
keadaan terlupa semasa berpuasa, tidak terbatal puasanya. Misalnya seseorang
lupa makan dan minum pada waktu puasa, lupa mengerjakan shalat lalu teringat
dan melakukannya diluar waktunya, lupa berbicara diwaktu shalat padahal belum
melakukan salam.
Sabda Nabi SAW:
ﻭﺿﻊ ﻋﻦ ﺍﻤﺘﻰ ﺍﻟﺧﻄﺄ ﻭﺍﻟﻧﺴﻴﺎﻦ ﻭﻤﺎ ﺍﺴﺘﻜﺭ ﻫﻭﺍ ﻋﻟﻴﻪ ﴿ﺮﻮﺍﻩ ﺍﻠﺒﻴﻬﻗﻰ﴾
(Diangkat
pena dari penulis dosa pada ummatku ketika salah, lupa dan terpaksa). (HR.
Baihaqi dari Ibnu
Umar)
Ø Kejahilan : Kejahilan terdapat
empat macam:
a)
Kejahilan yang bathil; tidak mendapatkan udzur ketika diakhirat seperti
kejahilan kafir terhadap sifat-sifat Allah dan hukum-hukum akhirat. Jahl
mengikuti hawa nafsu, jahl pemberontak, jahl berpaling dari ijtihad dari
Al-Qur’an dan sunah masyhurah dan ijma’.
b)
Kejahilan yang tidak tahu mengunai ijtihad yang benar, maka terkena udzur.
Seperti orang yang menzinai budak dan anaknya atau istrinya dia menyangka hal
tersebut diperbolehkan.
c)
Kejahilan pada Negara yang belum berlaku hukum islam. Misalnya, minum khomr
tidak mendapatkan sanksi karena kebodohan tersebut.
d)
Kejahilan Syafii’
Ø Kepayahan : tanaman yang terkena
najis binatang yang membajaknya dimaafkan.
Atau misalnya dibolehkan istinja’ dengan batu, kebaikan memakai sutra bagi
laki-laki yang sakit, jual beli dengan akad salam, adanya khiar dalam jual beli
dan shalat dengan najis yang sulit untuk dihilangkan
Ø Kekurangan: orang gila dan bayi
tidak diberikan tanggungjawab oleh syarak. Misalnya wanita kadang-kadang haid
dalam setiap bulannya maka diperingankan untuk tidak mengikuti jumat, karena
jumat membutuhkan waktu lama dan dikhawatirkan dalam kondisi jumat itu datang
bulan. ( as- Suyuthi, TT : 56-57).
VIII.
JENIS-JENIS KERINGANAN SYAR’I
Menurut pendapat Syeikh ‘Izz al-Din bin Abd
al-Salam al-Syafi’i, jenis keringanan atau rukhsah itu ada enam.
Manakala menurut ulama mazhab Hanafi sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibn
Nujaym, rukhsah itu ada tujuh jenis yaitu:
a)
تخفيف إسقاط - keringanan
dengan menggugurkan kewajiban.
Contohnya :
v Tidak wajib atau gugur shalat
Jumaat karena ada halangan tertentu.
v Digugurkan kewajiban sholat bagi
wanota yang haidh dan nifas..
v Digugurkan kewajipan haji dan umrah disebabkan keuzuran,atau wanita yang
tidak mendapatkan mahram.
b) تخفيف تنقيص - keringanan dengan mengurangkan bebanan.
Contohnya :
v Memendekkan atau qasar shalat zhuhur atau asar menjadi dua rakaat ketika dalam perjalanan.
c) تخفيف إبدال - keringanan dengan gantian atau penukaran.
Contohnya :
v Diganti ibadah dengan ibadah, seperti mengganti wudhu dan mandi dengan
bertayamum ketika tidak air atu tidak mampu untuk mamakainya, mengganti puasa
diwaktu lain karena tidak mampu.
v Menukarkan kedudukan shalat bagi
orang sakit yang tidak berdiri dengan duduk atau baring atau isyarat.
v Menukarkan bagi orang tua yang uzur yang tidak dapat berpuasa dengan
membayar fidyah.
d) تخفيف تقديم - keringanan
dengan mendahulukan.
Contohnya :
v Menyegerakan membayar zakat sebelum waktu atau haulnya.
v Sembahyang jama’ taqdim.
e) تخفيف تاخير - keringanan
dengan mengakhirkan.
Contohnya :
v Menangguhkan puasa Ramadhan kerana musafir,wanita haidh, wanita nifas.
v Shalat dengan jama’ ta’khir.
v Menangguhkan shalat demi menyelamatkan orang mati lemas dan terbakar.
f) تخفيف ترخيص (اضطرار) - keringanan mendapat rukhsah kerana
terdesak atau terpaksa.
Contohnya :
v Minum arak karena terlalu dahaga (haus) dan karena tidak ada air.
v Diharuskan makan bangkai kerana terdesak, jika tidak melakukannya maka akan
menyebabkan kematian.
g) تخفيف تغيير - keringanan mengubah atau menukar.
Contohnya :
v Menukar dan mengubah kedudukan serta cara mendirikan shalat ketika dalam keadaan ketakutan dan menghadapi musuh.
IX.
RUKHSAH SYAR’IYYAH
Menurut ulama’ ushul fiqh, rukhsah syar’iyyah
didefinisikan sebagai hukum-hukum yang disyariatkan oleh Allah s.w.t dengan
mengambil uzdur untuk manusia. Manakala
ulama’ dalam kalangan mazhab Syafie menta’rifkannya sebagai hukum yang
menyanggahi dalil kerana keuzurannya. Ulama’ mazhab Syafie membagikan rukhsah kepada lima bahagian :
a) Rukhsah Wajib
Contohnya memakan bangkai ketika darurat, berbuka
puasa kerana terlalu lapar dan dahaga yang membawa kepada kebinasaan diri dan minum arak
untuk melunakkan makanan yang tersekat
di kerongkongan ketika tiada minuman lain. Ia wajib dilakukan bagi menjaga
kelangsungan hidupnya. Hal demikian berdasarkan firman Allah s.w.t:
وَأَنفِقُواْ فِي سَبِيلِ اللّهِ وَلاَ تُلْقُواْ بِأَيْدِيكُمْ
إِلَى التَّهْلُكَةِ وَأَحْسِنُوَاْ إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ -١٩٥-
“Dan infakkanlah (hartamu)
di jalan Allah, dan janganlah kamu jatuhkan (diri sendiri) ke dalam kebinasaan
dengan tangan sendiri, dan berbuat baiklah. Sungguh, Allah Menyukai orang-orang
yang berbuat baik.”
b) Rukhsah Sunnah
Contohnya
seperti mengqasarkan shalat ketika perjalanan dan berbuka puasa kerana sakit
atau dalam perjalanan (musafir). Berdasarkan sabda Rasulullah s.a.w : “Ia
merupakan sedekah yang disedekahkan oleh Allah kepada kamu, maka terimalah
sedekahnya”.
c) Rukhsah harus
Seperti akad
jual salam, bai’ al-araya, akad sewaan dan sebagainya. Ia
diharuska kerana keperluan.
d) Rukhsah khilaf al-awla
Seperti
melafazkan kekufuran ketika dipaksa dalam keadaan hati tetap beriman dan
berbuka puasa ketika dalam perjalanan bagi orang yang mengalami kesulitan atau tidak mampu menyempurnakan
puasanya. Berdasarkan firman Allah s.w.t :
“Puasa yang diwajibkan itu ialah beberapa hari yang
tertentu; maka sesiapa di antara kamu yang sakit, atau dalam musafir, (bolehlah
ia berbuka), kemudian wajiblah ia berpuasa sebanyak (hari yang dibuka) itu pada
hari-hari yang lain; dan wajib atas orang-orang yang tidak terdaya berpuasa
(kerana tua dan sebagainya) membayar fidyah iaitu memberi makan orang miskin.
Maka sesiapa yang dengan sukarela memberikan (bayaran fidyah) lebih dari yang
ditentukan itu, maka itu adalah suatu kebaikan baginya; dan (walaupun demikian)
berpuasa itu lebih baik bagi kamu daripada memberi fidyah), kalau kamu
mengetahui”.
e)
Rukhsah makruh
Seperti
mengqasar shalat dalam perjalanan yang memakan waktu kurang dari tiga hari tiga
malam.
Namun begitu,
ulama mazhab Hanafi membahagikan rukhsah kepada empat jenis yaitu:
v Harus melakukan yang haram ketika
darurat dan suatau kebutuhan, seperti
melafazkan kata-kata kufur ketika dipaksa dalam keadaan hati tetap beriman. Ini
berdasarkan kepada firman Allah s.w.t :
“Sesiapa yang kufur kepada Allah sesudah ia beriman
(maka baginya kemurkaan dan azab dari Allah), kecuali orang yang dipaksa
(melakukan kufur) sedang hatinya tenang tenteram dengan iman”.
Juga
seperti berbuka puasa pada bulan Ramadhan, memusnahkan harta orang lain ketika
dipaksa atau sebagainya. Hukum rukhsah ini harus tetapi hanya dalam paksaan untuk melakukan kekufuran, mereka
berpendapat bahawa beramal dengan ̒azimah lebih utama.
v Harus meninggalkan yang wajib,
seperti harus berbuka puasa pada bulan Ramadhan kerana sakit atau musafir. Ini
berdasarkan firman Allah s.w.t
v “Maka bagi siapa di antara kamu yang sakit, atau
dalam musafir, (bolehlah ia berbuka), kemudian wajiblah ia berpuasa sebanyak
(hari yang dibuka) itu pada hari-hari yang lain”.
v Harus melakukan akad atau urusan
yang diperlukan oleh manusia walaupun pada asalnya ia bertentangan dengan
kaedah umum perundangan Islam, seperti akad jual salam dan akad istisna’
(tempahan).
v Menghapuskan hukum yang
menyulitkan yang disyariatkan dalam syariat- syariat terdahulu seperti bunuh diri untuk bertaubat
dan mengoyakkan bahagian yang terkena najis pada pakaian. Rukhsah ini
adalah majazi sahaja kerana pada hakikatnya hukum tersebut tidak
terpakai lagi dalam syariat Nabi Muhammad s.a.w.
Manakala
bagi Imam al-Syatibi pula, rukhsah itu sendiri harus secara mutlak,
tidak ada rukhsah wajib atau sunat. Bagi beliau hukum wajib makan bangkai ketika darurat,
sebenarnya ̒azimah yang sabit untuk menjaga kehidupan. Ini berdasarkan
firman Allah s.w.t:
“Dan
janganlah kamu sengaja mencampakkan diri kamu ke dalam bahaya kebinasaan”.
Firman Allah
s.w.t :
“ Dan janganlah kamu berbunuh-bunuhan sesama sendiri’’.
Sebagian
ulama’ berpendapat bahawa rukhsah hanya merangkumi perkara-perkara yang
tidak dinaskan keharusannya. Tetapi jika ada nas secara qat’i, rukhsah
tidak berbangkit walaupun ada masyaqqah. Pendapat ini masyhur dikalangan
pengikut mazhab Hanafi.
Jika seseorang itu terus beramal mengikut hukum asal
sedangkan ada masyaqqah yang mengharuskan rukhsah, apakah hukum
perbuatan itu? Al- Zarkashi berpendapat
sah dan gugur kewajibannya jika masyaqqah itu tidak membawa
kepada kebinasaan atau dharar yang lebih besar. Sebaliknya kalau ditakuti
akan timbul dharar yang lebih besar atau boleh membawa kepada
kemusnahan, mestilah diamalkan rukhsah. Kerana itu wajib berbuka puasa
ketika sangat lapar. Sekiranya puasa diteruskan juga ia dikira maksiat
(ingkar). Menurut Imam al-Ghazali, puasa itu mungkin tidak sah kerana ia
mengingkari rukhsah tersebut. Ia boleh disifatkan sebagai jenazah
terhadap ruh yang menjadi hak Allah s.w.t. Bagaimanapun, kata beliau ini tidak
bermakna ia satu maksiat.
X.
QOI’DAH PECAHAN (FURU’)
Diantara asas-asa Qoi’dah yang utama tersebut dapat
dikeluarkan menjadi beberapa qoi’dah pecahan
lain yang akan disebutkan di sini
sebanyak sepuluh qai’dah diantaranya ialah :
1.
إذا ضاق الأمر إتسع
Maksudnya : Apabila sesuatu itu
sempit, hukumnya menjadi luas.
Contohnya seseorang yang priksa
kedokter dan dia diharuskan untuk membuka auratnya.
2. إذا إتسع الأمر
ضاق
Maksudnya : Apabila sesuatu itu
longgar atau luas, hukum menjadi sempit.
Apabila sesuatu itu atau
pelaksanaannya mudah ataupun longgar, maka hukum pelaksanaannya menjadi sempit.
Qoi’dah ini juga berkait rapat dengan kaedah الضرورات تقدر
بقدرها)) yang dimaksud keadaan darurat itu diharuskan menurut
kadar kemampuannya.
Yang dimakdsud dengan qai’dah ini adalah , hukum
itu diringankan selama ada masyaqqah namun jika masyaqqah itu hilang, maka hukum pelaksanaannya kembali
apada asalnya. Contohnya, seseorang yang
dalam keadaan lapang, seharusnya melakukan shalat di awal waktu serta dengan menepati segala
rukun dan syaratnya yang sempurna.
3. الضرورات تبيح
المحظورات
Maksudnya : Kemudaratan-kemudaratan
itu membolehkan untuk melakukan sesuatu yang terlarang.
Qai’dah
ini bermaksud keadaan kemudaratan itu membolehkan dan mengharuskan perkara yang
dicegah atau dilarang. Qai’dah ini
dapat dikaitkan dengan kaedah :
يجوز في الضرورة
ما لا يجوز في غيرها))
yaitu yang dilarang syari’at itu diperbolehkan ketika adanya darurat. Namun
dengan begitu, pengharusan waktu darurat itu menurut kadar kemampuannya atau tidak melebihi
kadar yang diharuskan. Contohnya, harus memakan bangkai atau benda haram ketika
sangat lapar untuk menyelamatkan diri daripada mati kelaparan.
Pengecualian
daripada Qoi’dah (kes pengecualian).
ü Berikut merupakan hukum yang
pengecualian dari qai’dah di atas, ia
tidak diharuskan sama sekali melakukannya walaupun terpaksa dan dipaksa,
antaranya ialah :
Ø Kekufuran atau kufur. Seseorang
tidak boleh sama sekali murtad atau kufur kepada Allah walaupun dia disiksa dan
akan dibunuh. Namun begitu dia boleh hanya menzahirkan kekufuran dan hatinya
tetap beriman yaitu konsep taqiyyah. Walau bagaimanapun, menzahirkan
keimanan itu lebih utama demi menyatakan kekuatan Islam.
Ø Membunuh. Seseorang yang disiksa
atau dipaksa membunuh orang lain, ia tidak boleh melakukannya atau melaksanakan
arahan tersebut.
Ø Berzina. Jika seseorang itu
dipaksa berzina ia tidak boleh melakukannya.
Yang berubah adalah hukum perbuatannya akan tetapi hukumnya tetap harom.
4. الضرورات تقدر بقدرها
Maksudnya :
Keadaan darurat ditentukan sesuai dengan kadarnya.
Keadaan
darurat yang diharuskan atau dibolehkan disebabkan ada kemudaratan. Kadar
kemudaratan tersebut hendaklah tidak berlebihan dan melampai batas. Hukum tersebut hanyalah sekadar untuk
menghilangkan kemudaratan yang
sedang menimpa, apabila kemudaratan itu hilang, maka pengharusan terhadap apa
yang didasarkan kepada kemudaratan itu hilang juga, yaitu kembali hukum asal.
Contohnya,
memakan bangkai hanyalah diharuskan untuk menyelamatkan diri dari kelaparan dan menyebabkan kematian.
Apabila sudah bertenaga , batasan yang
diharuskan itu berakhir. Dokter diharuskan melihat aurat pasien lelaki dan wanita untuk merawat, namun
pada anggota atau bahagian sakit sahaja, tidak lebih dari itu.
5. ما جاز لعذر بطل
بزواله
Maksudnya :
Sesuatu yang diperbolehkan kerana uzdur, batal dengan sebab hilangnya uzdur
tersebut.
Sesuatu
yang dihalalkan dan diharuskan ketika ada uzdur itu akan kembali kepada hukum
asal apabila hilangnya uzdur tersebut. Contohnya, tayammun menjadi batal
dengan sebab didapati atau adanya air sebelum mendirikan shalat. Pada bulan
Ramadhan seseorang jatuh sakit, diharuskan berbuka puasa kerana keuzurannya
itu. Namun setelah dia sembuh, maka dia wajib berpuasa.
6. الحاجة تنزل منزلة الضرورة عامة كانت أو خاصة
Maksudnya : Keperluan atau
hajat menempati pada kedudukan darurat
secara umum atau khusus.
Maksud qai’dah ini,
keringanan itu tidak hanya terbatas untuk perkara darurat saja, namun ia juga terdapat pada perkara hajiyyat
atau keperluan. Dengan arti kata lain, keringanan itu dibolehkan pada
perkara hajiyyat sebagaimana ia dibolehkan pada perkara darurat.
Contohnya, seseorang lelaki diharuskan memakai pakaian sutera disebabkan ada
penyakit kulit dan lainnya, namun dalam keadaan biasa diharamkan. Selain itu,
diharuskan melihat calon isteri untuk tujuan perkawinan.
7. الإضصطرار لا يبطل حق الغير
Maksudnya : Keadaan terdesak tidak membatalkan hak orang lain.
Maksud qai’dah ini adalah, keperluan di waktu terdesak
tidak dapat membatalkan hak milik orang lain sepenuhnya. Ia sama mendapatkan
bahaya disebabkan perkara samawi seperti lapar atau bukan disebabkan
perkara samawi seperti dipaksa. Contohnya, apabila tempo sewa atau upah menyusu bayi dari ibu susu
telah selesai, sedangkan bayi tersebut telah dapat menyesuaikan diri dengan
susunya, tambahan pula, bayi tersebut belum dapat makan atau menerima makanan
lain, maka ibu susu tersebut boleh dipaksa supaya terus menyusui bayi tersebut,
ini adalah untuk menjaga kepentingan bayi. Ibu susu tersebut hendaklah dibayar
upah dengan kadar yang setimpal.
Selain itu, sekiranya tempo sewaan tanah pertanian telah
selesai namun tanamannya masih belum dapat dituai disebabkan belum masak.
Sewaan dikira berterusan sampai ia dapat dituai, dengan kadar tambahan sewaan
sepatutnya. Hal demikian kerana desakan dan tekanan penyewa untuk mengekalkan
tanamannya hingga masak dan dapat dituai tetap tidak membatalkan hak milik tuan
tanah.
8. الحكم يتبع المصلحة الراجحة
Maksudnya : Hukum itu mengikut kemaslahatan yang kukuh.
Kaedah ini banyak digunakan dalam perkara yang berkaitan
dengan ibadat, jihad dan sebagainya. Walaupun kadangkala pada zahirnya didapati
ada kerugian dari perbuatan tersebut, namun kesudahannya atau hakikatnya
terdapat kemaslahatan yang kuat dan rajih. Lantaran itulah syari’at
menyuruh melaksanakan. Contohnya, keizinan berjihad dan memerangi musuh. Pada
zahirnya menyebabkan kematian dan kerosakan, namun natijahnya adalah amat baik
dan jelas. Yaitu mempertahankan diri, agama dan menyebaran agama Islam. Hasil
jihad, Islam tersebar ke pelusuk dunia.
9. الحكم يدور مع
علته
Maksudnya : Hukum itu berkisar
bersama illahnya atau sebabnya.
Kaedah
ini bermaksud sesuatu hukum itu atau hukum yang ada itu disebabkan ada illahnya
atau sebabnya. Lantaran itu sekiranya illah itu
hilang, maka tidak berlakulah hukum tersebut. Contohnya, diharamkan arak
disebabkan illahnya yang memabukkan, apabila illahnya hilang atau
tidak ada lagi, waktu itu ia tidak diharamkan, seperti arak tersebut telah
bertukar menjadi cuka.
Selain
itu, sesuatu itu apabila ia mengandungi racun, apabila ia merusakkan maka ia
diharamkan, namun apabila tidak merusakkan bahkan dapat dijadikan obat,
diharuskan. Antara contoh lain lagi, jus anggur atau nira itu apabila ia
bertukar menjadi arak hilanglah kesuciannya.
10. ينزل المجهول منزلة المعدوم
Maksudnya :
Kedudukan perkara yang tidak diketahui itu sama dengan kedudukan yang tidak
ada.
Kaedah
ini dibawa oleh Ibn Rajib al- Hanbali dalam kitab Taqrir al-Qawaid wa Tahrir
al-Fawaid. Ia
bermaksud apa yang tidak diketahui atau majhul
kedudukan serta tarafnya sama dengan taraf apa yang tidak ada. Contohnya,
barang temuan atau harta yang ditemui tercicir selepas tempo haul atau
masanya, ia menjadi milik orang yang menemuinya atas dasar asalnya tidak
diketahui pemilik. Apa-apa yang tidak dapat dimiliki dari barangan temuan pula,
hendaklah disedekahkan bagi pihak pemilik, menurut pendapat yang tepat.
Hal demikian, berdasarkan kepada sabda Baginda
s.a.w dari ’Iyad bin Himar :
((
فإن جاء صاحبها فأدها اليه، وان لا فهي مال الله يؤتيه من يشاء))
‟Apabila datang pemiliknya,
dialah yang lebih berhak. Sekiranya tidak, ia adalah harta Allah yang
dikurniakan kepada sesiapa yang Ia kehendaki”.
BAB III
XI.
PENUTUP
Kesimpulannya,
prinsip kaedah masyaqqah tajlibul al-taisir banyak didasarkan hukum-hukum
Islam dan muncul segala hukum kemudahan, kesenangan dan keringanan asas atau
dalil kaedah ini bahawa meletakkan beban dengan perkara yang susah menjadi
kesukaran dan masyaqqah ke pada hamba-hamba mukallifin.
Dalil-dalil
yang menunjukkan perkara di atas memang banyak terdapat di dalam ayat-ayat
al-Qur’an dan hadis Rasulullah s.a.w yang membuktikan kepada kita unsur
kemudahan, kesenangan dan keringanan syariat Islam sebaliknya syariat itu tidak
dikuatkan untuk kesusahan dan kepayahan.
WALLAHU ’ALAM BISH SHAWAB.
v REFERENSI
Ø Al-Quran Al-karim
Ø Al-Hanafi, Zain al-Din Ibn Ibrahim al-Ma’ruf Ibn Nujaym. 1999. Al-Ashbah
wa al- Nazair. Cetakan
kedua. Damsyiq : Dar al-Fikr.
Ø Ab. Latif Muda & Rosmawati
Ali @ Mat Zain. 2000. Perbahasan Kaedah-kaedah Fiqh. Kuala Lumpur: Pustaka Salam Sdn. Bhd.
Ø Al-Suyuti, Jalal al-Din ’Abd
Al-Rahman. t.th. Al-Ashbah wa al-Nazair fi Qawaid wa Furu’ Fiqh al-Syafie.t.tp : t.tpt.
Ø Muhammad Uthman Bashir.
2006M/1426H. Al-Qawaid al-Kuliyyah wa
al-Dhawabit al-Fiqhiyyah fi al-Syariah al-Islamiyyah. Oman al-Ardan: Dar
al-Nafais.
Ø Saadan Man.1994. Doktrin
Masyaqqah dan Hukum Keringanan Menurut Prinsip Islam. Jilid 2.
Ø Al Burnu,
Muhammad Shiddiq bin Ahmad, al-Wajiz fi Idhah, al-Qawai’id al
Fiqhiyah, cet I, (Beirut: Muassasah al-Risalah, 1404 H/1983 M).
. (Wahbah as Zuhaili 1982:40)
. Mukhlis usman, MA. Kaidah-Kaidah
Ushuliyah dan Fiqhiyah. Jakarta: Raja Grafindo Persada:1997. Hal 124
. Saadan
Man.1994. Doktrin Masyaqqah dan Hukum Keringanan Menurut Prinsip Islam. Jilid 2.
.
Al Burnu,
Muhammad Shiddiq bin Ahmad, al-Wajiz fi Idhah, al-Qawai’id al
Fiqhiyah, cet I, (Beirut: Muassasah al-Risalah, 1404 H/1983 M), hal. 129.
.Al-Suyuti,
Jalal al-Din ’Abd Al-Rahman. t.th. Al-Ashbah wa al-Nazair fi Qawaid wa Furu’ Fiqh al-Syafie.t.tp : t.tpt.
. Prof. H. A. Djazuli. Kaidah-Kaidah Fiqih.
Jakarta:Kencana, 2006. hal 57-58
.
Al Burnu, Muhammad Shiddiq bin
Ahmad, al-Wajiz fi Idhah, al-Qawai’id al Fiqhiyah, cet I,
(Beirut: Muassasah al-Risalah, 1404 H/1983 M), hal. 134.
. Ab Latif
Muda & Rosmawati Ali @ Mat Zain, 2000, hlm. 150.
. Al Burnu, Muhammad Shiddiq bin Ahmad, al-Wajiz fi
Idhah, al-Qawai’id al Fiqhiyah, cet I, (Beirut: Muassasah
al-Risalah, 1404 H/1983 M), hal.140.
. Ab. Latif Muda & Rosmawati Ali @ Mat Zain. 2000. Perbahasan
Kaedah-kaedah Fiqh. Kuala
Lumpur: Pustaka Salam Sdn. Bhd.
0 komentar:
Posting Komentar
Tulis saran dan kritik anda di sini. Harus menggunakan login akun @yahoo, @gmail, @hotmail atau yang lainnya