BAB 1
PENDAHULUAN
A.
Sepuluh
Dosa-dosa Besar Terbesar Dalam Islam
Agama Islam adalah suatu sistem nilai yang paling
mapan dalam sejarah agama di dunia. Dalam menjalani kandungan ajaran tersebut
maka Allah SWT telah menjanjikan dua hal sebagai balasan atas apapun yang
menjadi tindakan umat manusia. Pahala (balasan baik) adalah bagi mereka yang
beramal shalih. Dan dosa (balasan buruk) akan berbuah siksa bagi mereka yang
melakukan tindak kemaksiatan. Kedua konsekuensi tersebut adalah bukti bagi
ke-Maha Adilan Allah SWT .
Bagi umat Islam setidaknya terdapat sepuluh
aktivitas yang menjadi larangan utama. Adapun balasan bagi semua dosa hanyalah
satu, yaitu siksa yang sangat pedih. Neraka adalah suatu lembah isolasi bagi
mereka yang berdosa di dalam hidupnya. Neraka adalah mimpi buruk bagi setiap
manusia yang berlumuran dosa. Dan mereka abadi didalamnya.
Syaikh Al-Imam
Al-Hafizh Syamsudin al-Dzahabi rahimahullah di dalam kitabnya Al-Kabaa’ir telah
menyebutkan rating dosa-dosa di dalam agama Islam. Beliau memetakan urutan
dosa-dosa yang utama tersebut sebagaimana deskripsi berikut ini:
1.
As-Syirku biLlah.
2. Membunuh Jiwa
3. Sihir
4. Meninggalkan Shalat.
5. Menahan Penunaian Zakat.
6. Tidak Berpuasa Ramadhan Tanpa Adanya Udzur.
7. Tidak Melakukan Haji dalam Kecukupan Harta.
8. Durhaka kepada Kedua Orang Tua.
9. Bersengketa dengan Kerabat.
10. Berzina.
B.
Penegasan
Islam Tentang Zina
Ayat-ayat Al-Qur’an dibawah ini merupakan
hukum yang menyatakan
secara tegas
bahwa islam mengharamkan zina;
1.
“(Ini adalah) satu surat
yang Kami turunkan dan Kami wajibkan (menjalankan hukum-hukum yang ada di
dalam)nya, dan Kami turunkan di dalamnya ayat-ayat yang jelas, agar kamu selalu
mengingatinya”.(QS. An-Nur : 1)
2.
“Perempuan yang berzina dan
laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus
kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk
(menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akherat,
dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari
orang-orang yang beriman”.(QS. An-Nur : 2)
3.
“Laki-laki yang berzina
tidak menikahi melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik;
dan perempuan yang berzina tidak dinikahi melainkan oleh laki-laki yang berzina,
atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang
mu’min” .(QS. An-Nur : 3)
4.
“Dan orang-orang yang
menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak
mendatangkan empat orang-orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu)
delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat
selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik”.(QS. An-Nur : 4)
5.
“Wanita-wanita yang tidak
baik adalah untuk laki-laki yang tidak baik, dan laki-laki yang tidak baik
adalah buat wanita-wanita yang tidak baik (pula), dan wanita-wanita yang baik
adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk
wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang di tuduh) itu bersih dari apa yang
dituduhkan oleh mereka. Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (yaitu surga)”
.(QS. An-Nur : 26)
6.
“Dan janganlah kamu
mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan
suatu jalan yang buruk”.(QS. Al-Isra : 32)
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Zina (الزنا
)
adalah persetubuhan yang dilakukan oleh seorang lelaki dengan seorang perempuan
tanpa nikah yang sah mengikut hukum syarak (bukan pasangan suami isteri) dan
kedua-duanya orang yang mukallaf, dan persetubuhan itu tidak termasuk dalam
takrif (persetubuhan yang meragukan). Jika seorang lelaki melakukan
persetubuhan dengan seorang perempuan, dan lelaki itu menyangka bahawa
perempuan yang disetubuhinya itu ialah isterinya, sedangkan perempuan itu bukan
isterinya atau lelaki tadi menyangka bahawa perkahwinannya dengan perempuan
yang disetubuhinya itu sah mengikut hukum syarak, sedangkan sebenarnya
perkahwinan mereka itu tidak sah, maka dalam kasus ini kedua-dua orang itu
tidak boleh didakwa dibawah kes zina dan tidak boleh dikenakan hukuman hudud,
kerana persetubuhan mereka itu adalah termasuk dalam wathi’ subhah yiaitu persetubuhan yang meragukan. Mengikut
peruntukan hukuman syarak yang disebutkan di dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits yang
dikuatkuasakan dalam undang-undang Qanun Jinayah Syar’iyyah bahawa orang yang
melakukan perzinaan itu apabila sabit kesalahan di dalam mahkamah wajib
dikenakan hukuman hudud, iaitu disebat sebanyak 100 kali sebat. Sebagaimana
Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang bermaksud:
“ Perempuan yang berzina dan lelaki yang
berzina, hendaklah kamu sebat tiap-tiap seorang dari kedua-duanya 100 kali
cambuk, dan janganlah kamu dipengaruhi oleh perasaan belas kasihan terhadap
keduanya dalam menjalankan hukum Agama Allah, jika benar kamu beriman kepada
Allah dan hari Akhirat, dan hendaklah disaksikan hukuman siksa yang dikenakan
kepada mereka itu oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman”. (Surah An-
Nur ayat 2)
B.
PEMBAGIAN
ZINA
ZINA TERBAGI MENJADI DUA :
1.
ZINA MUHSAN
Yaitu lelaki atau perempuan yang telah pernah melakukan persetubuhan
yang halal (sudah
pernah menikah) .
Perzinaan yang boleh
dituduh dan didakwa dibawah kesalahan Zina Muhsan
ialah lelaki atau
perempuan yang telah baligh, berakal, merdeka dan telah
pernah berkahwin, iaitu
telah merasai kenikmatan persetubuhan secara
halal.
2. ZINA BUKAN MUHSAN
Yaitu lelaki atau perempuan yang belum pernah melakukan persetubuhan
yang halal (belum
pernah menikah).
Penzinaan yang tidak cukup syarat-syarat yang disebutkan bagi perkara diatas
tidak boleh dituduh dan
didakwa dibawah kesalahan zina muhsan, tetapi
mereka itu boleh
dituduh dan didakwa dibawah kesalahan zina bukan
muhsan mengikut
syarat-syarat yang dikehendaki oleh hukum syarak.
muhsan mengikut
syarat-syarat yang dikehendaki oleh hukum syarak.
C.
HUKUMAN
BAGI ORANG YANG MELAKUKAN ZINA
1.
Seseorang
yang melakukan zina Muhsan, sama ada lelaki atau perempuan wajib dikenakan
keatas mereka hukuman had (rejam) Yaitu dibaling dengan batu yang sederhana
besarnya hingga mati. Sebagaimana yang dinyatakan di dalam kitab I’anah Al-
Thalibin juzuk 2 muka surat 146 yang bermaksud :
“”Lelaki
atau perempuan yang melakukan zina muhsan wajib dikenakan keatas mereka had
(rejam), iaitu dibaling dengan batu yang sederhana besarnya sehingga mati ””.
2.
Seseorang yang melakukan zina bukan muhsan sama ada
lelaki atau perempuan wajib dikenakan ke atas mereka hukuman sebat 100 kali
sebat/cambuk dan di buang keluar negeri/diasingkan selama setahun sebagaimana
terdapat di dalam kitab Kifayatul Ahyar juzuk 2 muka surat 178 yang bermaksud :
“”Lelaki atau perempuan yang melakukan zina bukan muhsin wajib dikenakan
keatas mereka sebat 100 kali sebat dan buang negeri selama setahun””.
3.
Perempuan-perempuan yang dirogol atau diperkosa oleh
lelaki yang melakukan perzinaan dan telah dukung dengan bukti –bukti yang
diperlukan oleh hakim dan tidak menimbulkan sebarang keraguan dipihak hakim
bahawa perempuan itu dirogol dan diperkosa, maka dalam kasus ini perempuan itu
tidak boleh dijatuhkan dan dikenakan hukuman hudud,dan ia tidak berdosa dengan
sebab perzinaan itu.
4.
Lelaki yang merogol atau memperkosa perempuan
melakukan perzinaan dan telah ditetapkan kesalahannya dengan bukti – bukti dan
keterangan yang dikehendaki oleh hakim tanpa menimbulkan keraguan dipihak
hakim, maka hakim hendaklah menjatuhkan hukuman hudud keatas lelaki yang
merogol perempuan itu, iaitu wajib dijatuhkan dan dikenakan ke atas lelaki itu
hukuman rejam dan sebat.
5.
Perempuan-perempuan yang telah disebutkan oleh hakim
bahawa ia adalah dirogol dan diperkosa oleh lelaki melakukan perzinaan, maka
hakim hendaklah membebaskan perempuan itu dari hukuman hudud (tidak boleh
direjam dan disebat) dan Allah mengampunkan dosa perempuan itu di atas
perzinaan secara paksa itu.
D.
PERMASALAHAN
ZINA DI SEKITAR KITA
Media
elektronik seperti televisi, internet, CD player, komputer dan sebagainya
termasuk menjadi sebab utama krisis moral bangsa ini. Teknologi telah disalah
gunakan. Pornografi dan pornoaksi sangat mudah diakses di internet. Tontonan
film dan sinetron yang tidak syar’i dan tidak mendidik menghiasi chanel
televisi kita. VCD/DVD porno beredar dimana-mana.
Menjamurnya
buku dan bacaan cabul sangat efektif menghancurkan moral pembacanya, baik
novel, komik, maupun majalah yang mengandung pornografi dan pornoaksi. Semua
sarana ini menjurus terjadinya zina.
Pergaulan
bebas di sepanjang jalan protokol ibu kota negeri syariat dengan dalih makan
burger ikut mewarnai maksiat malam di lingkungan kita. Kafe-kafe yang menjamur
tanpa ada pemisahan tempat duduk antara laki-laki dan perempuan yang non
muhrim. Sementara Pemerintah hanya diam saja menjadi penonton budiman tanpa ada
tindakan tegas, seakan “mengamini” kondisi maksiat ini.
Tidak
peduli, baik pelaku zina itu berstatus suami atau istri, mahasiswa, pejabat,
dan sebagainya. Perbuatan zina nekad dilakukan hanya untuk memuaskan nafsu
birahi sesaat. Anehnya, pelaku maksiat ini masih berkeliaran di sekitar kita
dengan tenang tanpa ada sanksi yang tegas terhadap mereka. Dengan dalih suka
sama suka, merekapun terbebas dari jeratan hukum KUHP yang merupakan produk
hukum kolonial Belanda.
Hal
ini dapat berefek negatif terhadap imej orang luar tentang penerapan syariat
itu sendiri, dan membuka celah bagi orang “anti syariat” untuk menyerang
syariat. Padahal yang salah adalah oknum (orang)nya, bukan sistem syariat yang
berorientasi mendatangkan kemaslahatan bagi manusia dan menghilangkan
kemudharatan dalam konteks individu maupun sosial.
E.
PENYEBAB
MARAKNYA ZINA
Banyak
faktor yang menyebabkan maksiat ini “tumbuh subur” di negeri kita ini. Faktor
yang utama adalah lemahnya Iman masyarakat saat ini. Krisis iman ini disebabkan
kita telah jauh dari pendidikan dan pengamalan nilai-nilai Islam. Pendidikan
kita selama ini, sejak usia dini sampai tingkat universitas telah membentuk
paradigma bahwa dunia adalah segala-galanya, tanpa ada prioritas terhadap agama
(iman) dan moral (akhlak). Kita dididik untuk berlomba-lomba mengejar kemewahan
dunia (harta, pangkat dan jabatan). Padahal Allah Swt telah mengingatkan kita:
“Dan
apa saja (kekayaan, jabatan dan keturunan) yang diberikan kepadamu, maka itu
adalah kesenangan hidup duniawi dan perhiasannya, sedang apa yang di sisi Allah
adalah lebih baik dan lebih kekal. Tidakkah kamu mengerti? (QS. Al-Qashah: 60).
Selain
itu, faktor media elektronik seperti televisi, internet, CD player, komputer
dan sebagainya termasuk menjadi sebab utama krisis moral bangsa ini. Teknologi
telah disalah gunakan. Pornografi dan pornoaksi sangat mudah diakses di
internet. Tontonan film dan sinetron yang tidak syar’i dan tidak mendidik
menghiasi chanel televisi kita. Begitu juga VCD/DVD porno beredar dimana-mana.
Media cetakpun memberi andil yang besar terhadap pemikiran dan moral pembaca.
Menjamurnya buku dan bacaan cabul sangat efektif menghancurkan moral
pembacanya, baik novel, komik, maupun majalah yang mengandung pornografi dan
pornoaksi. Semua sarana ini menjurus terjadinya zina.
Selain
itu, kita sendiri telah memberikan peluang untuk maksiat ini. Kita membiarkan
remaja kita (yang belum menikah) berkhalwat dengan pacaran, jalan dua-duaan,
dan berboncengan motor. Pergaulan bebas di sepanjang jalan protokol ibu kota
negeri syariat dengan dalih makan burger ikut mewarnai maksiat malam di negeri
ini. Kafe-kafe yang menjamur tanpa ada pemisahan tempat duduk antara laki-laki
dan perempuan yang non muhrim. Pakaian para wanita pun mengundang birahi lawan
jenisnya (ketat, tipis dan nampak aurat). Sementara Pemerintah hanya diam saja
menjadi penonton budiman tanpa ada tindakan tegas, seakan “mengamini” kondisi
maksiat ini.
F.
SOLUSI
PERMASALAHAN ZINA.
Islam
adalah agama fitrah yang mengakui keberadaan naluri seksual. Di dalam Islam,
pernikahan merupakan bentuk penyaluran naluri seks yang dapat membentengi
seorang muslim dari jurang kenistaan. Maka, dalam masalah ini nikah adalah
solusi jitu yang ditawarkan oleh Rasulullah saw sejak 14 abad yang lampau bagi
gadis/perjaka.
Selain
itu, penerapan syariat Islam merupakan solusi terhadap berbagai problematika
moral ini dan penyakit sosial lainnya. Karena seandainya syariat ini diterapkan
secara kaffah (menyeluruh dalam segala aspek kehidupan manusia) dan
sungguh-sungguh, maka sudah dapat dipastikan tingkat maksiat khalwat, zina,
pemerkosaan dan kriminal lainnya akan berkurang drastic, seperti halnya di Arab
Saudi. Survei membuktikan, kasus kriminal di Arab Saudi paling sedikit di
dunia.
Orang
tua pun sangat berperan dalam pembentukan moral anaknya dengan memberi
pemahaman dan pendidikan islami terhadap mereka. Orang tua hendaknya menutup
peluang dan ruang gerak untuk maksiat ini dengan menyuruh anak gadisnya untuk
berpakaian syar’i (tidak ketat, tipis, nampak aurat dan menyerupai lawan
jenis). Memberi pemahaman akan bahaya pacaran dan pergaulan bebas. Dalam
konteks kehidupan masyarakat, tokoh masyarakat dapat memberikan sanksi tegas
terhadap pelaku zina sebagai preventif (pencegahan). Jangan terlalu cepat
menempuh jalur damai “nikah”, sebelum ada sanksi secara adat, seperti
menggiring pelaku zina ke seluruh kampung untuk dipertontonkan dan sebagainya.
Selain itu, majelis ta’lim dan ceramah pula sangat berperan dalam mendidik
moral masyarakat dan membimbing mereka.
Begitu
pula sekolah, dayah dan kampus sebagai tempat pendidikan secara formal dan
informal mempunyai peran dalam pembentukan moral pelajar/mahasiwa. Dengan
diajarkan mata pelajaran Tauhid, Al-Quran, Hadits dan Akhlak secara
komprehensif dan berkesinambungan, maka para pelajar/mahasiswa diharapkan tidak
hanya menjadi seorang muslim yang cerdas intelektualnya, namun juga cerdas
moralnya (akhlaknya).
Peran
Pemerintah dalam amal ma’ruf nahi munkar mesti dilakukan. Pemerintah diharapkan
mengawasi dan menertibkan warnet-warnet, salon-salon, kafe-kafe dan pasangan
non-muhrim yang berboncengan. Karena, bisa memberi celah dan ruang untuk
maksiat ini. Mesti ada tindak pemblokiran situs-situs porno sebagaimana yang
diterapkan di Negara Islam lainnya seperti Arab Saudi, Iran, Malaysia dan
sebagainya.
Pemerintah
hendaknya bersungguh menegakkan syariat Islam di Bumi Serambi Mekkah ini,
dengan membuat Qanun-Qanun yang islami, khususnya Qanun Jinayat (hukum pidana)
dengan sanksi yang tegas, demi terciptanya keamanan, kenyamanan dan ketentraman
di negeri ini. Di samping itu, konsep pendidikan Islami mesti segera dirumuskan
dan diterapkan. Sebagai solusi atas kegagalan dan kelemahan sistim pendidikan
selama ini yang tidak mendidik moral generasi bangsa. Tidak ada pilihan lain,
pendidikan Islami sudah menjadi pilihan dan priotitas seperti yang diamanatkan
dalam renstra Qanun pendidikan untuk segera diterapkan dan juga merupakan
solusi terhadap permasalahan moral generasi bangsa
BAB III
KESIMPULAN
1.
Dalam agama islam Allah SWT telah menjanjikan
dua hal sebagai balasan atas apapun yang menjadi tindakan umat manusia. Pahala
(balasan baik) adalah bagi mereka yang beramal shalih. Dan dosa (balasan buruk)
akan berbuah siksa bagi mereka yang melakukan tindak kemaksiatan.
2.
Di dalam al-qur’an Allah SWT banyak berfirman dan
menjelaskan tentang larangan zina.
3.
Zina adalah persetubuhan yang dilakukan oleh seorang
lelaki dengan seorang perempuan tanpa nikah yang sah menurut hukum islam. Zina
dibagi dua yaitu zina muhsan dan bukan muhsan.
4.
Seseorang yang melakukan zina Muhsan, wajib
dikenakan keatas mereka hukuman had (rejam) Yaitu dilempar dengan batu yang
sederhana besarnya hingga mati,sedangkan yang bukan muhsan harus di cambuk
sebanyak seratus kali cambukan.
5.
Faktor utama maraknya zina adalah lemah iman di
Negara kita ini, serta pengaruh kemajuan teknologi.
6.
Cara mencegah zina yang paling utama adalah
menyegrakan menikah bagi yang sudah mampu,serta dengan mengembangkan syariat
islam di negeri ini.
0 komentar:
Posting Komentar
Tulis saran dan kritik anda di sini. Harus menggunakan login akun @yahoo, @gmail, @hotmail atau yang lainnya